Yang tak pernah dilirik

 Seekor ulat apa pun bentuk dan rupanya, rata rata tak pernah diperhatikan keberadaannya. Andaikan ia dilihat manusia, ia dihindari malah mungkin dibunuh. Manusia seakan akan memusuhi ulat tersebut. Entah jijik, takut gatal, geli dan perasaan perasaan yang lain tentang si ulat tersebut. Manusia terutama petani malahan memusuhi ulat tersebut karena merusak tanaman yang di ladangnya.

Ulat secantik warna dan bentuknya tetap saja dipandang jijik. Padahal ia hanyalah makhluk yang mungkin dianggap lemah dan tidak berarti. Betulkah demikian?

Ulat hanyalah suatu siklus kehidupan. Ia keluar dari telur kupu-kupu sebagai orang tuanya. Ia diletakkan dalam pohon yang daunnya nanti menjadi makanannya. Orang tuanya sungguh mengerti akan kehidupan si ulat, yang kelak akan menjadi penerus kehidupannya.

Setelah melalui kehidupan sebagai ulat. Ia beristirahat menjadi kepompong, yang mempersiapkan kehidupan berikutnya sebagai kupu-kupu dewasa.

Setelah kepompong menjadi kupu-kupu, ia menjelma seolah-olah menjadi makhluk lain. Ia dikagumi oleh manusia karena keelokannya, tariannya, warnanya, lucunya, dan beberapa kekaguman tentangnya. Pujaan terhadapnya tak terbatas hanya difikirkan, tapi dibuat lukisan, puisi, bahkan lagu untuk sosok mungil, cantik, dan indah disela bunga-bunga aneka warna yang melengkapi keberadaannya. Manusia bahkan lupa akan kehidupan ia sebagai ulat yang mereka benci sebelumnya.

Cianjur Januari 2023

Ketika rehat sejenak 

Komentar